Rabu, 24 September 2008

Buku Gelatin

Di Indonesia, gelatin masih merupakan barang impor, negara pengimpor utama adalah Eropa dan Amerika. Menurut data BPS 1997, secara umum terjadi pemanfaatan gelatin secara besar-besaran dalam industri pangan dan farmasi. Menurut data SKW biosystem, penggunaan gelatin dalam industri non pangan sejumlah 100.000 metrics ton digunakan pada industri pembuatan film foto sebanyak 27.000 ton, untuk kapsul lunak sebanyak 22.600 ton, untuk produksi cangkang capsul (hard capsul) sebanyak 20.200 ton serta dalam dunia farmasi dan teknis sebanyak 12.000 ton dan 6.000 ton.
Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen. Gelatin merupakan protein yang larut yang bisa bersifat sebagai gelling agent (bahan pembuat gel) atau sebagai non gelling agent. Sumber bahan baku gelatin dapat berasal dari sapi (tulang dan kulit jangat), babi (hanya (kulit) dan ikan (kulit). Karena gelatin merupakan produk alami, maka diklasifikasikan sebagai bahan pangan bukan bahan tambahan pangan.
Meskipun gelatin halal boleh diperoleh dari kulit lembu atau kerbau tetapi ia tidak menguntungkan dari segi ekonomi karena kulit lembu atau kambing secara komersialnya lebih menguntungkan dalam industri barang kulit dan kebanyakan kulit babi digunakan untuk membuat gelatin. Gelatin yang dihasilkan dari kulit babi juga dikatakan lebih bermutu tinggi dan mudah dihasilkan. Berdasarkan laporan di pasaran, gelatin dunia pada tahun 2003, bahan mentah yang digunakan untuk membuat gelatin adalah 42.4% daripada kulit babi, 29.3% dari kulit lembu, 27.65% dari tulang dan dari sumber lain sebanyak 0.7%. Melalui laporan ini jelaslah bahwa penggunaan kulit babi adalah begitu tinggi dibanding sumber-sumber lain. Adakah kita mengetahui tentang masalah ini dan apakah tindakan yang harus kita ambil sebagai konsumen muslim? Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W “Yang Halal itu sudah jelas, dan yang Haram pun sudah jelas, dan antara kedua hal tersebut terdapat yang musytabihat (syubhat, samar-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa yang berhati-hati dari perkara syubhat, sebenarnya ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya..... (H.R Muslim)”.


Dalam Alqur’an juga disebutkan dalam surat Almaidah ayat 88 yang berbunyi :
       •      
88. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.
Ketika teknologi pangan belum berkembang seperti saat ini, dimana tidak ada atau tidak banyak makanan dan minuman olahan yang beredar, masalah halal dan haramnya makanan dan minuman relatif tidak serumit sekarang. Walaupun dari segi syar’i permasalahan selalu ada, terutama karena adanya perbedaan pendapat di antara para ulama. Meskipun demikian, perbedaan pendapat tersebut relatif tidak banyak dan relatif lebih mudah dipecahkan. Lain halnya pada keadaan sekarang, dimana teknologi telah berkembang sedemikian rupa sehingga hal-hal yang dulunya tidak ada menjadi ada dengan bantuan teknologi. Sebagai contoh, dahulu orang membuat roti cukup dengan menggunakan bahan dasar terigu, ragi dan air. Akan tetapi, sekarang tidak cukup hanya dengan bahan utama itu saja, tetapi perlu ada tambahan bahan lainnya yang disebut dengan bahan tambahan makanan seperti shortening (mentega putih), perisa atau flavor (bahan untuk menimbulkan aroma dan rasa tertentu), anticacking agent dan gelling agent (gelatin). Di antara bahan-bahan tambahan tersebut banyak yang bagi orang awam tidak mengetahui asal usulnya, akan tetapi bagi ahlinya telah diketahui bahwa di antara bahan tambahan makanan tersebut (contoh gelatin) ada yang diekstrak dari tulang/ kulit babi. Sehingga, diperlukan usaha yang sangat keras untuk mengetahui mana yang halal (tidak mengandung unsur babi) dan mana yang tidak halal. Itu baru satu contoh permasalahan saja, bisa dibayangkan apabila masalah asal bahan dikaitkan dengan bahan-bahan dari hewan lainnya (sapi, kambing, kerbau, ayam) yang tidak disembelih dengan persyaratan syariat Islam, tentu akan lebih rumit lagi. Juga jika dikaitkan dengan cara penyembelihannya, akan menambah pula kerumitan permasalahan.
Datangnya era globalisasi tidak dapat dihindari lagi. Hal ini akan membawa konsekuensi banyak makanan dan minuman impor baik yang jelas keharamannya atau yang tidak jelas keharamannya beredar di tengah-tengah kita. Ditambah lagi, banyak sekali bahan utama dan bahan tambahan makanan yang harus diimpor untuk memproduksi bahan pangan olahan di dalam negeri, dimana telah digambarkan di atas bahwa tidak mudah mengenali asal bahan tersebut, dengan kata lain tidak mudah menentukan kehalalan bahan tersebut. Dengan demikian, apabila tidak ada jaminan kehalalan suatu bahan atau produk pangan, maka akan sulit sekali bagi orang awam untuk memilih mana makanan dan minuman yang halal dan mana yang haram. Untuk itulah diperlukan adanya peraturan dan pengaturan yang jelas, yang menjamin kehalalan suatu bahan atau produk pangan. Di samping itu, umat Islam perlu dibekali dengan pengetahuan yang cukup tentang masalah ini, bahkan para ulama harus bekerjasama dengan para ilmuwan dalam menentukan kehalalan suatu bahan atau produk pangan mengingat permasalahan ini memerlukan pengetahuan yang mendalam mengenai asal usul bahan itu sendiri di samping pengetahuan hukum Fiqih.
Pada tulisan ini penulis akan memberikan gambaran bagaimana mengenali bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi gelatin secara halal dalam kaitannya dengan penggunaannya dalam teknologi pangan dan membahas pula masalah kehalalan yaitu kaitannya Antara Syar’i, Teknologi dan Sertifikasi.

Malang, Mei 2008




Akyunul Jannah,S.Si,M.P

Buku ini akan diterbitkan di UIN Press. Silahkan baca ya

4 komentar:

Anonim mengatakan...

sudah keluar belum bukunya mba?

kalau bisa sih saya ingin tau lebih banyak nih tentang proses pembuatan gelatin yg halal (tulang ikan, tulang sapi, atau alternatifnya dari rumput laut)

semoga nanti di Indonesia ada industri gelatin halal yg bisa diimport

Unknown mengatakan...

Bukunya ini ada dalam bentuk jurnal kah?? Kalo ada, bisa minta buat literatur tugas akhir. Kebetulan tugas akhir saya ttg pembuatan gelatin dari tulang ceker ayam..

Unknown mengatakan...

Kak Aliefiya Aulia masih ada proposal penelitian pembuatan gelatin dari tulang ceker ayam? Guna buat acuan penelitian.Kebetulan penelitian saya juga itu kak.sebelumnya trimakasih

Unknown mengatakan...

Kak Aliefiya Aulia masih ada proposal penelitian pembuatan gelatin dari tulang ceker ayam? Guna buat acuan penelitian.Kebetulan penelitian saya juga itu kak.sebelumnya trimakasih